Rabu, 26 Agustus 2015

PENDIDIKAN KADERISASI “GONTOR”
Salah satu Pondok yang berkiblat dari beberapa universitas luar negeri seperti Al-Azhar Kairo, Alighar India, Santiniketan India adalah Pondok Modern Gontor.  Pondok ini melahirkan banyak pemimpin mulai dari di daerah sampai tingkat nasional, saat ini sudah ada beberapa alumninya yang berperan dalam berbagai bidang karena salah satu pendidikannya adalah dengan cara pembiasaan dan melatih mereka untuk menjadi pemimpin. Siap di pimpin dan siap untuk memimpin. Beberapa point penting yang diajarkan Kyai Gontor terkait pemimpin adalah sebagai berikut ini:
Skill kepemimpinan yang berdasar teori saja tanpa menyertakan jiwaØ dan filsafat hidup tidak akan banyak artinya. Model kepemimpinan yang didapat dari akademis saja akan menjadi pasif. Lain halnya dengan model kepemimpinan yang didasarkan pengalaman dan merasakan langsung sebagai pemimpin.
Seorang pemimpin harus menyertakan jiwa kejuangan dan pengorbananØ serta kesungguhan. hal ini karena orang yang berbicara, menyampaiakan dengan jiwa dan hatinya akan terasa lebih masuk dan memberi atsar yang baik dihati.
Mendidik santri dengan penugasan, santri diberdayakan dan digerakannØ dengan berbagai macam tugas dan kegiatan merupakan cara untuk mendidik yang baik. Sebagai contoh, ketika ada kunjungan Menteri ke Gontor, maka santri diwajibkan berkumpul di BPPM. Mereka juga terlibat dalam penyambutan tamu tersebut sebagai bagian keamanan misalnya atau pasukan marching band atau penerima tamu ataupunbagian dekorasi yang menyiapkan background di BPPM.. Dalam acara ini santri punya andil dan bekerja. Tata cara penyambutan sepereti ini bukan hanya untuk menghormati kedatangan tamu saja, tetapi lebih dari itu adalah untuk mendidik santri. Sasaran yang dituju yaitu menginformasikan kepada santri bagaimana cara menyambut tamu secara baik, inilah sebuah pendidikan bagi santri mengingat banyak hal yang diberayakan, mulai dari santri guru sampai pimpinan juga. Inilah gaya dan cara Gontor dalam rangka mencetak para pemimpin-pemimpin masa depan.
Dalam setiap acara dan kejadian di Gontor ada filosofinya. Kenapa adaØ aturan aturan semisal santri harus berbahasa resmi (Arab/Inggris), tidak boleh bergaul dengan orang desa sekitar, santri diwajibkan melunasi pembayaran sebelum engikuti ujian itu semua ada dasar filosofinya.
Model manajemen yang dipakai oleh orang-orang Barat ,misalnya yangØ konon sudah berhasil diterapkan, bukan berarti cocok untuk diterapkan di Gontor. Kita memakai manajeman ala Gontor yang berdasar atas pengalaman bertahun-tahun. Pernah suatu saat Pondok mendatangkan tim manajeman pemasaran dari Jakarta yang terkenal piawai dalam hal distribusi barang-barang dagangan. Tetapi apa yang terjadi, ternyata bertolakbelakang dari yang diharapkan karena sistem dan cara yang mereka terapkan tidak bisa membawa keuntungan bahkan pondok mengalami defisit. Lain lagi setelah penangananya di ambil alih oleh guru/santri sendiri yang bekerja atas dasar keikhlasan dan kesungguhan, maka lambat laun kerugian dapat dihindari. Dari sini ternyata manajeman itu ternyata sangat kondisional, tidak mesti berhasil diterapakn disemua tempat.
Ternyata keberhasilan kepemimpinan juga tidak hanya tergantung dariØ sisitem yang diterapkan saja, melainkan faktor pelaksana sistem ini juga lebih penting. Dikatakan”Athoriqat ahammu min al-maadah, Wal Mudarrisu ahammu min at-Thoriqah, Wa ruuhu almudarris ahammu min al-Mudarrisi”. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan dalam mendidik santri juga tergantung dari ”objek” yang dididik.” maka dari itu diperlukan keikhlasan dalam diri obyek yang akan dididik, disinilah tugas kyai untuk membuat para santri/guru ikhlas.
 Karena pendidikan adalah proses pembiasaan, yang melahirkan sebuah
Ø dinamika kegiatan, militansi yang pada akhirnya lahirlah etos kerja/karakter/watak. Guru yang berada di unit-unit usaha Pondok tidak mendapatkan gaji/upah, karena nilai pendidikan mereka tidak diukur oleh materi. Dalam aktivitas santri dan guru terkadang timbul riak-riak kecil yang mengganggu keikhlasan. Namun dari sinilah proses pendidikan berlangsung.
 Pondok pengkaderan, bukan tempat untuk mencari kekayaan. Yang
Ø dikendalikan pemimpin bukan sisitem, tetapi ”jiwa/ filsafat hidup”.
Ilmu merupakan proses hasil takwa seseorang: IttaqullahØ wayu’allimukumullah Ilmu akan didapat seiring dengan meningkatnya keimanan seseorang.
 Pimpinan Gontor mengawal santri bahkan alumni yang telah di luar
Ø kampus, pengkaderan seperti ini seperti yang dilakukan oleh kalangan pengkader dari kalangan Militer dan dari pengakaderan di agama Nasrani. Pertama; dari militer terdapat sistem penugasan, penempatan dan bimbingan yang diberikan kepada lulusan AKABRI. Kedua, di kalangan Pengkader Nasrani, mereka menempatkan kader-kader mereka di Asrama, dengan fasilitas yang lebih, seperti beasiswa sekolah, dikawal di masyarakat dan diberi kedudukan. Dari kedua macam sistem pengkaderan inilah, PMDG mencoba mengambil sisi positif dari dua sistem tersebut.
 Terkadang kita lihat anak-anak di Gontor yang gagal, tidak naik kelas
Ø dan kalah dalam persaingan dengan temannya. Hal ini dikarenakan persaingan yang ketat di Gontor. Akan lain hanya kalau mereka sudah singgah di masyarakat, mereka bisa jadi mutiara yang punya daya saing tinggi.
Sekali bahwa ciri-ciri modern itu meliputi:
1.      Kaderisasi
2.      Sistematik
3.      Efektif
4.      Efisien
5.      Progresif
6.      Homogenizing
Memahami agama tidak hanya dengan otak saja melainkan harus dengan penghayatan. Transformasi visi, misi dan nilai-nilai pondok ditujukan kepada:
Santri, Guru, Wali murid, Masyarakat, Tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah
Diantara hal yang membuat tegaknya disiplin adalah tersedianyaØ fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai. Ketika raja Faishal di Saudi Arabia memerintah sekitar tahun 1969, keadaan waktu itu sangatlah tidak teratur dan semrawut, hal ini karena sarana prasarana waktu itu minim. Sebagai contoh, disiplin pengguna jalan di kota-kota besar, orang dengan seenaknya saja menggunakan jalan tanpa mengindahkan aturan dan rambu-rambu yang ada. Akan tetapi setelah beberapa tahun dan keadaan kerajaan Saudi Arabia terpenuhi fasilitas dan prasarana maka semua. Meskipun demikian kelengkapan fasilitas bukan jaminan berhasilnya sebuah institusi pendidikan.
Untuk membimbing santri sebanyak 4500 memerlukan orang –orang militanØ sebaga pembimbing. Adanya Gontor cabang yang sampai sekarang berjumlah 10 cabang memerlukan orang orang yang militan dalam bekerja, berbuat.
 Ada perbedaan antara pemimpin, pejabat dan manajer:
Pemimpin : Jadi pemimpin karena memiliki pengaruh/figuritas dan wibawa yang
membawanya menjadi seorang pemimpin
Pejabat : Menduduki jabatan karena ditunjuk, ia tidak memiliki integritas yang memadai
Manajer :Terpilih menjadi manajer karena ia memiliki manajerial yang baik, tersusun rapi.

 S
yarat syarat menjadi pemimpin:
1.      Mempunyai jiwa kejuangan
2.      Menguasai permasalahan
3.      Rela berkorban
4.      Banyak mengambil inisiatif
5.      Bisa membuat network dan memanfaatkanya
6.      Bisa dipercaya/profesional
7.      Open Manajeman
8.      Mampu bermuamalah ma’a Allah dan Muamalah ma’a annas

Bisa jadi perbandingan kegiatan non akademis dan akademis di Gontor adalah 15% berbanding 85%
Kerja yang dilakukan manusia itu sebagai alat uji loyalitas dan militansi manusia. Di IPB banyak orang-oarnag yang militan dan lulusanya bisa masuk ke berbagai sektor sampai berhasil. Keberhasilan, prestasi yang menonjol bukan lantaran latar belakang akademisnya saja, melainkan llebih ditentukan oleh semangat militan dalam bekerja.maka tidaklah heran kalau lulusan IPB, misalnya masuk ke sektor-sektor berbeda. Meski tidak sesuai dengan latar belakang jurusan dan fakultasnya.

KH. Hasan Abdullah Sahal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar