PENDIDIKAN KADERISASI “GONTOR”
Salah satu Pondok yang berkiblat dari beberapa
universitas luar negeri seperti Al-Azhar Kairo, Alighar India, Santiniketan
India adalah Pondok Modern Gontor. Pondok ini melahirkan banyak pemimpin
mulai dari di daerah sampai tingkat nasional, saat ini sudah ada beberapa
alumninya yang berperan dalam berbagai bidang karena salah satu pendidikannya
adalah dengan cara pembiasaan dan melatih mereka untuk menjadi pemimpin.
Siap di pimpin dan siap untuk memimpin. Beberapa point penting yang diajarkan
Kyai Gontor terkait pemimpin adalah sebagai berikut ini:
Skill kepemimpinan yang berdasar teori saja tanpa
menyertakan jiwaØ dan filsafat
hidup tidak akan banyak artinya. Model kepemimpinan yang didapat dari akademis
saja akan menjadi pasif. Lain halnya dengan model kepemimpinan yang didasarkan
pengalaman dan merasakan langsung sebagai pemimpin.
Seorang pemimpin harus menyertakan jiwa kejuangan
dan pengorbananØ serta
kesungguhan. hal ini karena orang yang berbicara, menyampaiakan dengan jiwa dan
hatinya akan terasa lebih masuk dan memberi atsar yang baik dihati.
Mendidik santri dengan penugasan, santri
diberdayakan dan digerakannØ dengan berbagai macam tugas dan kegiatan
merupakan cara untuk mendidik yang baik. Sebagai contoh, ketika ada kunjungan
Menteri ke Gontor, maka santri diwajibkan berkumpul di BPPM. Mereka juga
terlibat dalam penyambutan tamu tersebut sebagai bagian keamanan misalnya atau
pasukan marching band atau penerima tamu ataupunbagian dekorasi yang menyiapkan
background di BPPM.. Dalam acara ini santri punya andil dan bekerja. Tata cara
penyambutan sepereti ini bukan hanya untuk menghormati kedatangan tamu saja,
tetapi lebih dari itu adalah untuk mendidik santri. Sasaran yang dituju yaitu
menginformasikan kepada santri bagaimana cara menyambut tamu secara baik,
inilah sebuah pendidikan bagi santri mengingat banyak hal yang diberayakan,
mulai dari santri guru sampai pimpinan juga. Inilah gaya dan cara Gontor dalam
rangka mencetak para pemimpin-pemimpin masa depan.
Dalam setiap acara dan kejadian di Gontor ada
filosofinya. Kenapa adaØ aturan aturan semisal santri harus berbahasa
resmi (Arab/Inggris), tidak boleh bergaul dengan orang desa sekitar, santri
diwajibkan melunasi pembayaran sebelum engikuti ujian itu semua ada dasar filosofinya.
Model manajemen yang dipakai oleh orang-orang
Barat ,misalnya yangØ konon sudah berhasil diterapkan, bukan berarti
cocok untuk diterapkan di Gontor. Kita memakai manajeman ala Gontor yang
berdasar atas pengalaman bertahun-tahun. Pernah suatu saat Pondok mendatangkan
tim manajeman pemasaran dari Jakarta yang terkenal piawai dalam hal distribusi
barang-barang dagangan. Tetapi apa yang terjadi, ternyata bertolakbelakang dari
yang diharapkan karena sistem dan cara yang mereka terapkan tidak bisa membawa
keuntungan bahkan pondok mengalami defisit. Lain lagi setelah penangananya di
ambil alih oleh guru/santri sendiri yang bekerja atas dasar keikhlasan dan
kesungguhan, maka lambat laun kerugian dapat dihindari. Dari sini ternyata
manajeman itu ternyata sangat kondisional, tidak mesti berhasil diterapakn
disemua tempat.
Ternyata keberhasilan kepemimpinan juga tidak
hanya tergantung dariØ sisitem yang diterapkan saja, melainkan faktor
pelaksana sistem ini juga lebih penting. Dikatakan”Athoriqat ahammu min al-maadah,
Wal Mudarrisu ahammu min at-Thoriqah, Wa ruuhu almudarris ahammu min
al-Mudarrisi”. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa keberhasilan dalam mendidik
santri juga tergantung dari ”objek” yang dididik.” maka dari itu diperlukan
keikhlasan dalam diri obyek yang akan dididik, disinilah tugas kyai untuk
membuat para santri/guru ikhlas.
Karena pendidikan adalah proses pembiasaan, yang melahirkan sebuahØ dinamika kegiatan, militansi yang pada akhirnya lahirlah etos kerja/karakter/watak. Guru yang berada di unit-unit usaha Pondok tidak mendapatkan gaji/upah, karena nilai pendidikan mereka tidak diukur oleh materi. Dalam aktivitas santri dan guru terkadang timbul riak-riak kecil yang mengganggu keikhlasan. Namun dari sinilah proses pendidikan berlangsung.
Pondok pengkaderan, bukan tempat untuk mencari kekayaan. YangØ dikendalikan pemimpin bukan sisitem, tetapi ”jiwa/ filsafat hidup”.
Karena pendidikan adalah proses pembiasaan, yang melahirkan sebuahØ dinamika kegiatan, militansi yang pada akhirnya lahirlah etos kerja/karakter/watak. Guru yang berada di unit-unit usaha Pondok tidak mendapatkan gaji/upah, karena nilai pendidikan mereka tidak diukur oleh materi. Dalam aktivitas santri dan guru terkadang timbul riak-riak kecil yang mengganggu keikhlasan. Namun dari sinilah proses pendidikan berlangsung.
Pondok pengkaderan, bukan tempat untuk mencari kekayaan. YangØ dikendalikan pemimpin bukan sisitem, tetapi ”jiwa/ filsafat hidup”.
Ilmu merupakan proses hasil takwa seseorang:
IttaqullahØ
wayu’allimukumullah Ilmu akan didapat seiring dengan meningkatnya keimanan
seseorang.
Pimpinan Gontor mengawal santri bahkan alumni yang telah di luarØ kampus, pengkaderan seperti ini seperti yang dilakukan oleh kalangan pengkader dari kalangan Militer dan dari pengakaderan di agama Nasrani. Pertama; dari militer terdapat sistem penugasan, penempatan dan bimbingan yang diberikan kepada lulusan AKABRI. Kedua, di kalangan Pengkader Nasrani, mereka menempatkan kader-kader mereka di Asrama, dengan fasilitas yang lebih, seperti beasiswa sekolah, dikawal di masyarakat dan diberi kedudukan. Dari kedua macam sistem pengkaderan inilah, PMDG mencoba mengambil sisi positif dari dua sistem tersebut.
Terkadang kita lihat anak-anak di Gontor yang gagal, tidak naik kelasØ dan kalah dalam persaingan dengan temannya. Hal ini dikarenakan persaingan yang ketat di Gontor. Akan lain hanya kalau mereka sudah singgah di masyarakat, mereka bisa jadi mutiara yang punya daya saing tinggi.
Pimpinan Gontor mengawal santri bahkan alumni yang telah di luarØ kampus, pengkaderan seperti ini seperti yang dilakukan oleh kalangan pengkader dari kalangan Militer dan dari pengakaderan di agama Nasrani. Pertama; dari militer terdapat sistem penugasan, penempatan dan bimbingan yang diberikan kepada lulusan AKABRI. Kedua, di kalangan Pengkader Nasrani, mereka menempatkan kader-kader mereka di Asrama, dengan fasilitas yang lebih, seperti beasiswa sekolah, dikawal di masyarakat dan diberi kedudukan. Dari kedua macam sistem pengkaderan inilah, PMDG mencoba mengambil sisi positif dari dua sistem tersebut.
Terkadang kita lihat anak-anak di Gontor yang gagal, tidak naik kelasØ dan kalah dalam persaingan dengan temannya. Hal ini dikarenakan persaingan yang ketat di Gontor. Akan lain hanya kalau mereka sudah singgah di masyarakat, mereka bisa jadi mutiara yang punya daya saing tinggi.
Sekali
bahwa ciri-ciri modern itu meliputi:
1. Kaderisasi
2. Sistematik
3. Efektif
4. Efisien
5. Progresif
6. Homogenizing
Memahami agama tidak hanya dengan otak saja melainkan
harus dengan penghayatan. Transformasi visi, misi dan nilai-nilai
pondok ditujukan kepada:
Santri, Guru, Wali murid, Masyarakat, Tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah
Santri, Guru, Wali murid, Masyarakat, Tokoh-tokoh masyarakat, pemerintah
Diantara hal yang membuat tegaknya disiplin adalah
tersedianyaØ fasilitas,
sarana dan prasarana yang memadai. Ketika raja Faishal di Saudi Arabia
memerintah sekitar tahun 1969, keadaan waktu itu sangatlah tidak teratur dan
semrawut, hal ini karena sarana prasarana waktu itu minim. Sebagai contoh, disiplin
pengguna jalan di kota-kota besar, orang dengan seenaknya saja menggunakan
jalan tanpa mengindahkan aturan dan rambu-rambu yang ada. Akan tetapi setelah
beberapa tahun dan keadaan kerajaan Saudi Arabia terpenuhi fasilitas dan
prasarana maka semua. Meskipun demikian kelengkapan fasilitas bukan jaminan
berhasilnya sebuah institusi pendidikan.
Untuk
membimbing santri sebanyak 4500 memerlukan orang –orang militanØ sebaga pembimbing. Adanya Gontor cabang yang sampai sekarang
berjumlah 10 cabang memerlukan orang orang yang militan dalam bekerja, berbuat.
Ada perbedaan antara pemimpin, pejabat dan manajer:
Ada perbedaan antara pemimpin, pejabat dan manajer:
Pemimpin :
Jadi pemimpin karena memiliki pengaruh/figuritas dan wibawa yang
membawanya menjadi seorang pemimpin
membawanya menjadi seorang pemimpin
Pejabat :
Menduduki jabatan karena ditunjuk, ia tidak memiliki integritas yang memadai
Manajer
:Terpilih menjadi manajer karena ia memiliki manajerial yang baik, tersusun
rapi.
Syarat syarat menjadi pemimpin:
1. Mempunyai jiwa kejuangan
2. Menguasai permasalahan
3. Rela berkorban
4. Banyak mengambil inisiatif
5. Bisa membuat network dan memanfaatkanya
6. Bisa dipercaya/profesional
7. Open Manajeman
8. Mampu bermuamalah ma’a Allah dan Muamalah
ma’a annas
Bisa
jadi perbandingan kegiatan non akademis dan akademis di Gontor adalah 15%
berbanding 85%
Kerja yang dilakukan manusia itu sebagai alat uji
loyalitas dan militansi manusia. Di IPB banyak
orang-oarnag yang militan dan lulusanya bisa masuk ke berbagai sektor sampai
berhasil. Keberhasilan, prestasi yang menonjol bukan lantaran latar belakang
akademisnya saja, melainkan llebih ditentukan oleh semangat militan dalam
bekerja.maka tidaklah heran kalau lulusan IPB, misalnya masuk ke sektor-sektor
berbeda. Meski tidak sesuai dengan latar belakang
jurusan dan fakultasnya.
KH. Hasan Abdullah Sahal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar