Rabu, 02 September 2015

KONDISI RUPIAH SEPTEMBER 2015



BAGAIMANA KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA SAAT INI?

Oleh Agus Riyadi (Mahasiswa PKU IX UNIDA Gontor)

Krisis Moneter di Indonesia terjadi sekitar tahun 1998, pada dasarnya krisis ekonomi bermula pada tahun tersebut dan tampaknya belum ada perbaikan ekonomi secara menyeluruh samapai sekarang ini, dengan kemajuan zaman yang begitu kompleks, tekhnologi yang canggih dan peradaban yang berkembang membuat Pemerintah harus berpikir secara kritis bagaimana cara memulihkan dan menstabilkan kembali perekonomian di Indonesia yang pastinya tidak hanya pemerintah yang berperan aktif tetapi segenap rakyat dan warga Indonesia seharusnya saling mendukung dan menjadi subjek dalam menjawab tantangan ekonomi saat ini.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tanggal 14 Maret 2015, Rupiah ditutup di posisi Rp13,191 per US Dollar, dan ini adalah posisi terendah bagi mata uang Rupiah terhadap US. Pada puncak krisis global tahun 2008, Rupiah hanya anjlok sampai Rp12,768 per US Dollar sebagai titik terendahnya, sebelum kemudian segera balik lagi ke level normalnya yakni Rp 9,000-an per US Dollar.
Hal yang menarik juga yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan perekonomian yang sedang hangat menjadi sorotan publik, berawal dari kasus krisis ekonomi dan juga bursa saham  pada tahun 1998 dan 2008 yang konon disebutkan bahwasannya perekonomian indonesia sangat semerawut bahkan hancur serta berantakan. Tapi apa yang terjadi pada hari ini, meski kondisi Rupiah tampak mengkhawatirkan namun kondisi perekonomian secara umum tampak masih berjalan normal, dan IHSG juga justru malah sukses break new high dalam beberapa bulan terakhir. Oleh karena itu pertanyaannya, sebenarnya Indonesia sedang dalam kondisi krisis, baik-baik saja, apa gimana?
Terkait hal tersebut, marilah kita sejenak flashback  ke tahun 2013 lalu, tepatnya pada tanggal 23 Agustus 2013, dimana Pemerintah Indonesia ketika itu meluncurkan paket kebijakan “Penyelamatan Ekonomi”, terutama untuk mengatasi gejolak pelemahan Rupiah yang ketika itu sudah menembus Rp11,000 per USD. Sedikit mengingatkan, kondisi pasar saham ketika itu berbanding terbalik dengan saat ini dimana IHSG terpuruk di level 4,200-an, atau anjlok lebih dari 1,000 poin dibanding posisi puncaknya pada bulan Mei di tahun yang sama. Oleh karena itu ‘problem’ yang dihadapi Pemerintah ketika itu ada dua, yaitu:  
a.      Pelemahan Rupiah itu sendiri (yang dikeluhkan para pelaku usaha riil)
b.      pelemahan IHSG (yang dikeluhkan para investor dan pelaku pasar modal lainnya).
            Tetapi  yang sesungguhnya Indonesia sedang menghadapi berbagai macam problem yang lain yang dihadapi Indonesia ketika itu (tahun 2013) diantaranya adalah:
a.       Perlambatan pertumbuhan ekonomi
b.      Defisitnya neraca ekspor impor
c.       Meningkatnya nilai impor peralatan dan mesin-mesin industri karena pertumbuhan industri manufaktur di dalam negeri
d.      Turunnya nilai ekspor karena turunnya harga batubara, CPO, serta karet, yang merupakan tiga komoditas utama ekspor Indonesia.
            Pada tahun 2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tercatat hanya 5.8%, alias turun signifikan dibanding puncaknya yakni 6.9% pada tahun 2011. Jadi ketika Rupiah melemah sampai menembus Rp11,000 per Dollar, maka itu adalah refleksi dari perlambatan pertumbuhan ekonomi tadi, dimana jika fundamental perekonomian Indonesia melemah, maka Rupiah sebagai ‘saham Indonesia’ juga akan turut melemah.
            Jika pada tahun tersebut Pemerintah meluncurkan paket kebijakan penyelamatan ekonomi, maka seluruh rakyat Indonesia mengharapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang kembali meningkat yang akan menghasilkan nilai tukar Rupiah menguat dengan sendirinya.
            Berdasarkan XE Currency Converter, pada hari kamis, 03 September 2015 nilai tukar Rupiah Indonesia berada pada Rp14,175.20 per USD, maka sebenarnya kurang tepat jika dikatakan bahwa, “Rupiah melemah karena seluruh mata uang di negara manapun juga sedang melemah terhadap US Dollar’’, karena faktanya perekonomian di Indonesia sedang memang mengalami problem, yang mana problem ini bukan terjadi baru-baru ini saja, melainkan sudah terjadi sejak dua atau tiga tahun yang lalu. Kemudian jika dikatakan bahwa “Kita sedang mengalami krisis ekonomi” mungkin terlalu berlebihan, tapi jika kondisi ini dibiarkan maka bukan tidak mungkin jika krisis itu pada akhirnya akan benar-benar terjadi.
            Jika kita mengaitkan dengan pemaparan diatas, permasalahannya adalah Pemerintah tentunya tidak bisa mengendalikan harga komoditas di pasar internasional, dan Pemerintah juga tidak bisa begitu saja menghentikan impor mesin-mesin industri, karena itu akan mematikan industri itu sendiri (sehingga dalam hal ini kita juga tidak bisa menyalahkan Pemerintah pada tahun 2013 lalu hanya karena kebijakannya tidak ‘menyentuh akar permasalahan’, karena mungkin memang hanya itu yang bisa dilakukan).
            Nah, Sekarang pertanyaannya, mampukah Pemerintah Jokowi dan Para Kabinet Periode ini untuk mengeluarkan kebijakan yang efektif dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan juga bisa dengan cepat diimplementasikan? Contohnya tiga hal yang sangat urgen saja yaitu:
a. Ekspor terbesar Indonesia setelah migas, CPO, dan batubara, adalah ekspor alat-alat listrik, karet, dan mesin-mesin mekanik. Jadi Pemerintah mungkin bisa memberikan insentif tertentu pada perusahaan-perusahaan alat-alat listrik dan mesin mekanik, agar mereka bisa meningkatkan nilai ekspor?
b. Ekspor terbesar Indonesia hingga saat ini adalah migas, nilai ekspor migas ini cenderung turun dari tahun ke tahun, dari US$ 41.5 milyar pada tahun 2011, menjadi hanya US$ 30.3 milyar pada 2014 Jadi dalam hal ini Pemerintah melalui kementerian dan badan-badan terkait mungkin bisa mendorong perusahaan-perusahaan minyak yang beroperasi di tanah air untuk meningkatkan produksinya?
c. Bisa kah Pemerintah memberikan insentif bagi perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit agar mereka mau mengembangkan industri hilir CPO, termasuk mengembangkan biodiesel, agar Indonesia bisa mengekspor produk hilir CPO yang memiliki nilai tambah, dan juga mengurangi impor solar?
            Setelah mendapat tekanan dari publik terkait kondisi perekonomian Indonesia sekarang ini, bagaimana sikap pemerintahan Jokowi dalam memberikan solusinya, kita lihat saja nanti...! mudah-mudahan Pemerintahan sekarang bisa membawa perubahan bagi Indonesia menuju Indonesia yang maju dan berkembang, sejahtera, aman sentosa sehingga menjadi negara yang maju, negara yang berwibawa dan terhormat dengan segala bentuk potensi yang di miliki negara kita negara Indonesia, yang pada akhirnya terciptalah masyarakat madani dalam negara yang baldatun toyyibatun warabbun ghofur... Aamin (AR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar